Tari menatap jalanan lurus dihadapannya dengan rasa bingung da sedikit takut. Ia tidak mengerti apa maksud Ata berkata demikian padanya. Sosok Ata kini sudah tidak tampak lagi Hening tercipta ditengah rasa kalut Tari yang menguasai dirinya. “Tar, lo kenapa? Lo ngelamun ya?” sebuah suara mengagetkan Tari. Ia serta merta menoleh ke belakang dan mendapati sosok Ari yang duduk manis di atas motor hitamnya dengan raut wajah penasaran. Ya, itu sudah pasti Ari, bukan Ata. “Apa? Eh..eng..enggak kok, kak! Saya nggak kenapa-napa.” Jawab Tari terbata seperti orang kikuk. Awalnya dia ingin memberitahu Ari tentang ancaman aneh Ata.
Namun niat itu segera diurungkan Tari. Ia tidak mau merusak hubungan dua saudara kembar yang baru dipertemukan lagi setelah sekian tahun terpisah itu. Lagipula Tari yakin, pasti ada alasan mengapa Ata melakukan hal demikian. Ata yang tadi dilihatnya sangat berbeda dengan sosok Ata yang ramah dan murah senyum sewaktu bertemu di bandara. Tari jelas sama sekali belum mengetahui bagaimana Ata. Apakah itu pribadi Ata yang sebenernya? Mengapa sangat berbeda dengan ‘Sifat Ata’ yang selama ini dipakai Ari saat melakukan sandiwara di depan Tari? “Tar, Kok bengong lagi sih? Lo sakit ?” Suara Ari lagi-lagi menyentakkan lamunan Tari. Tari baru sepenuhnya sadar bahwa Ari ada di depan rumahnya pagi ini. “ Oh ya, Kak Ari ngapain pagi-pagi gini udah ada di depan rumah saya?” “ Ya gue mau jemput lo ke sekolah lah, eh lo nya dari tadi bengong gak jelas. Udah lah cepet naik ! ini udah mau jam setengah tujuh, nanti telat lagi. Kalo gue mah gak apa, udah blacklist.
Tapi kalo lo yang telat bisa repot urusannya.” Jawab Ari panjang lebar. Tari melirik arloji barunya yang berwarna oranye. “ya ampun bener juga. Yuk cepetan kalo gitu” Tari berujar panik lalu segera menaikki boncengan motor Ari. Tak lama, motor hitam itu sudah melesat cepat melawan deru angin di jalanan kompleks yang belum terlalu ramai. Tanpa mereka sadari, sepasang mata sedari tadi terus mengawasi mereka. “ Maaf, tar. Harusnya memang lo gak terlibat. Tapi gue gak bisa apa-apa. Lo sendiri udah milih untuuk masuk dalam lingkaran semu yang bahkan gak lo mengerti. Gue gak tau entah sejak kapan, tapi sepertinya lo udah jadi seseorang yang begitu penting buat saudara kembar gue.” Batin Ata sambil menghela nafas dengan raut wajah lelah.
Selamat membaca...
You may also be interested in the following product(s)
If you enjoyed this article, subscribe to receive more great content just like it. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response
